Tirto Adi Suryo, Minke, Pangemanann dan Pram; Suara Siapakah?
Tirto Adi Suryo, Minke, Pangemanann dan Pram; Suara Siapakah?
Pada seminar yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Pers Nasional yang diberitakan dua media lokal di Bandung, harian umum PR dan majalah Mangle, PWI Jabar dan MSI Jabar mengusulkan Tirto Adi Suryo (TAS) baik sebagai tokoh Jawa Barat maupun sebagai bapak pers nasional atas perannya merintis pers nasional di Jawa Barat. Lewat penelusuran sejarah media massa, Prof. Dr. Hj. Nina Lubis, ahli sejarah dan cendekiawan sunda yang mengajar juga di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, ‘menemukan’ TAS di ujung sejarah pers nasional dan Jawa Barat sebagai tempat yang memegang peranan penting dalam sejarah media massa di Indonesia. Meskipun TAS nota bene bukan pituin sunda (lahir di Blora dan menyandang gelar kebangsawanan Raden Mas), beliau mulai merintis persnya dengan menerbitkan koran Soenda Berita di Cianjur, Jawa Barat. Awal terbentuknya pers dari pribumi dan untuk pribumi, bukan seperti yang sebelumnya ada: koran yang hanya dari mereka (kolonialis) untuk pribumi. Selanjutnya perjuangan persnya semakin hebat dengan terbitnya koran Medan Priyayi yang menjadi corong organisasi yang baru dibentuknya pada tahun 1906: Sarikat Priyayi, cikal bakal organisasi berskala nasional yakni Sarikat Islam. Lewat Medan Priyayi, benih-benih nasionalisme, kesadaran nasional, bukan kesadaran primordial dan bukan pula pers yang sekedar menampilkan tulisan tentang ‘eksotisme timur jauh’, mulai tumbuh berkembang. Haruskah urang sunda menolak penganugerahan gelar itu? Atau sebaliknya, haruskah wong jawa menolaknya juga? Adakah yang perlu dirisaukan? Menolaknya barangkali hanya akan mengungkapkan bahwa di dalam benak kita ideologi primordial ternyata masih beregulasi dengan baik, masih memiliki muatan subversif ketika kita memandang dan menyikapi sesuatu.
Sayangnya, tak satu pun dalam reportase TAS tersebut mengingatkan ataupun menyangkutpautkan tokoh ini dengan (alm.) Pramoedya Ananta Toer. Padahal beliau mencatatnya dengan begitu mengesankan dalam roman tetraloginya dan buku ”Sang Pemula”. Atau ungkapan yang lebih tepatnya: sayang sekali saya yang menyangkutpautkan TAS dengan Pram dan tokoh Minke-nya Pram dalam tetralogi tersebut. Hanya seorang Minke yang belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain di awal tetraloginya (Bumi Manusia). Hanya seorang Minke yang menuturkan, dan dituturkan tokoh lain, sikap dan visi nasionalismenya di Indonesia hingga empat jilid. Hanya seorang Minke yang habis-habisan mencerabut akar feodalisme Jawa di dalam kepalanya, menjejakkan dua kaki pada dua benua, menengok dan mempelajari peristiwa-peristiwa besar dunia yang menjadi tonggak pergerakan kebangsaan yang modern, lalu menuangkan prinsip-prinsipnya ke dalam pergerakan melawan kolonialisme di negerinya sendiri. Hanya seorang Minkekah kalau begitu?
Ia merintis organisasi modern: Sarikat Priyayi yang kemudian beralih menjadi Sarikat Islam dan pers yang menyuarakan kehendak bangsanya sendiri: Medan Priyayi. Ia menikahi Annelis, anak indo Nyai Ontorosoh dan putri Fatima adik Sultan Bacan, Oesman Syah. Tak satupun dari keduanya ia dikarunia anak. Suatu petandakah bahwa kehadiran anak harus dihilangkan jika ia hanya menjadi pewaris budaya leluhur, hanya menjadi corong masa lampau belaka? Lalu tubuhnya dilenyapkan pula lewat permainan intelejen kolonialis yang mengerikan. Hanya sedikit yang tahu kematiannya. Waktu mulai berlari. Para tokoh nasionalisme lainnya beserta organisasinya disibukkan dengan urusannya masing-masing, tak ada waktu luang untuk mengenang atau pun menelusurinya. Itu petanda lainnya. Ada konsekuensi-konsekuensi pahit yang harus diterimanya jika ia ingin berpikir dan bersikap modern dengan melawan rejim kolonialis.
Yang tersisa pada dirinya adalah teks.
Sebagai orang yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Unpad, saya bersyukur karena bisa belajar bagaimana memahami pentingnya suara, subyek yang berbicara, subyek dalam proses, naratologi, dll dalam suatu karya narasi baik berupa roman, novel, atau cerpen. Memang dalam kajian sastra kita tidak harus menafsir tokoh dalam suatu karya narasi sebagai seorang manusia yang ada sangkut pautnya dengan realitas. Tokoh harus dipahami sebagai subyek yang bermain dengan berbagai unsur lain dalam suatu struktur formal narasi. Keterlibatan data-data sejarah dalam suatu fiksi adalah salah satu cara bagi pengarang untuk meyakinkan pembaca bahwa peristiwa-peristiwa dalam karangannya pernah terjadi di suatu masa. Seorang pengarang karya sastra pun tidak harus terlibat sebagai sumber kebenaran tunggal atas penafsiran karyanya: Pengarang bisa ‘dimatikan’ demi kebhinekaan penafsiran.
Demikian pula dengan Pram. Ia mungkin menyadari bahwa tak mungkin suatu peristiwa atau realitas dapat dipahami tanpa ada subyek yang berbicara dalam suatu karya narasi. Ada penghargaan atas subyektivitas dalam suatu karya sastra. Pram mematikan dirinya ketika ia memulai romannya dengan kalimat: Orang memanggil aku: Minke (Bumi Manusia, 2000:1, Penerbit: Hasta Mitra). Minkelah subyek yang berbicara langsung kepada pembaca. Kita hanya tahu semuanya lewat penuturannya. Lewat naskahnya yang berjumlah 3 jilid (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah) kita bisa tahu alasannya mendirikan organisasi Syarikat Priyayi hingga Syarikat Islam, koran Medan Priyayi, pandangannya tentang perlunya gerakan nasionalisme untuk melawan kolonialisme dan tentang pembentukan suatu organisasi modern.
Masalahnya naskah tersebut tak mungkin bisa berada di hadapan kita jika ia sendiri tidak menyerahkannya kepada Jacques Pangemanann, tokoh intelejen dalam narasinya yang memang betugas untuk ‘mematikan’ Minke. Minke yang dimatikan itu dituturkan kembali lewat suara Pangemanann dalam Rumah Kaca. Mari kita lihat kalimat-kalimat terakhir dalam Rumah Kaca,
… Tentang kenyataan-kenyataannya cukuplah semua tertera dalam berkas catatanku Rumah Kaca ini, yang dengan rela kupersembahkan padamu. Madamelah hakimku. Hukuman aku terima, Madame.
Bersama ini aku serahkan juga padamu naskah-naskah yang memang menjadi hakmu, tulisan R.M. Minke, anakmu terkasih. (Rumah Kaca, 1988:481, Penerbit: Hasta Mitra).
Jadi tak mungkin pula kita bisa membaca tetralogi itu jika Pangemanann tidak menyerahkan naskah-naskah Minke dan miliknya sendiri kepada Madame Ontorosoh. Lalu timbul pertanyaan: siapa sebenarnya yang mengarang roman tetralogi ini? Apakah Pram adalah pewaris selanjutnya atas naskah-naskah Minke dan Pangemanann dari Madame Ontorosoh lalu menghubungi penerbit agar mencetak dan menyebarluaskannya? Inilah permainan teks sastra narasi yang sangat kontemporer. Kebenaran tidak hanya sekedar menggali makna yang terkandung di dalam teks namun juga harus memperhatikan siapa subyek yang sedang membicarakan kebenarannya, siapa author yang sedang beregulasi dalam teks tersebut dan subyek yang sedang authorized pada prosesnya.
Pram tak pernah mengatakan tetralogi ini sebagai novel atau roman melainkan sebagai naskah. Lalu bagaimana kita memperlakukan tetralogi ini: sebagai naskah sejarahkah atau sebagai karya fiksi belaka? Pertanyaan ini membawa kembali ke awal tulisan saya tentang TAS sebagai tokoh sejarah pers dan Minke sebagai tokoh fiksi dalam tetralogi Pram. Barangkali kesadaran Pram telah sampai di titik petemuan ini: ada batas yang samar antara sejarah dan fiksi. Data-data sejarah hanya genangan darah, sementara manusialah yang mendenyutkannya. Pram merasa tidak memiliki kuasa dan tidak berhak menjadi Author atas semua kehebatan itu. Ada subyek yang sedang berproses disana yang tak bisa dihentikan atau diwakilkan begitu saja. Ia memilih untuk menjadi tukang catat saja atas suara-suara tokoh-tokoh besar perintis bangsa ini, suara-suara yang tak bisa direpresentasikan alias di-dubbing, kebenaran yang tidak patut disampaikan hanya oleh orang ketiga. Pram memilih untuk menjadi seseorang yang ingin mempersembahkan denyutan darah anak-anak bangsa yang harus dipertaruhkan ketika mereka berbicara sendiri tentang nasib bangsanya.
Apapun namanya, sejarah atau fiksi, fakta atau narasi, ada satu hal yang penting bagi saya: lewat naskah/roman empat jilid yang dipersembahkan Pramoedya Ananta Toer inilah, saya mengagumi visi dan kesadaran kebangsaan Minke yang 99,9% kemungkinannya adalah Tirto Adi Suryo, bukan Dr Azahari! Kekaguman ini bagi saya jauh melebihi penobatan dirinya sebagai tokoh Jawa Barat maupun sebagai pahlawan nasional. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca seakan menjadi tongkat estafet suara anak bangsa atas nasib dan visi negerinya sendiri. Lalu siapakah gerangan yang memegang tongkat itu sekarang?
