terokaku

Monday, July 31, 2006

Tirto Adi Suryo, Minke, Pangemanann dan Pram; Suara Siapakah?

Tirto Adi Suryo, Minke, Pangemanann dan Pram; Suara Siapakah?

Pada seminar yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Pers Nasional yang diberitakan dua media lokal di Bandung, harian umum PR dan majalah Mangle, PWI Jabar dan MSI Jabar mengusulkan Tirto Adi Suryo (TAS) baik sebagai tokoh Jawa Barat maupun sebagai bapak pers nasional atas perannya merintis pers nasional di Jawa Barat. Lewat penelusuran sejarah media massa, Prof. Dr. Hj. Nina Lubis, ahli sejarah dan cendekiawan sunda yang mengajar juga di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, ‘menemukan’ TAS di ujung sejarah pers nasional dan Jawa Barat sebagai tempat yang memegang peranan penting dalam sejarah media massa di Indonesia. Meskipun TAS nota bene bukan pituin sunda (lahir di Blora dan menyandang gelar kebangsawanan Raden Mas), beliau mulai merintis persnya dengan menerbitkan koran Soenda Berita di Cianjur, Jawa Barat. Awal terbentuknya pers dari pribumi dan untuk pribumi, bukan seperti yang sebelumnya ada: koran yang hanya dari mereka (kolonialis) untuk pribumi. Selanjutnya perjuangan persnya semakin hebat dengan terbitnya koran Medan Priyayi yang menjadi corong organisasi yang baru dibentuknya pada tahun 1906: Sarikat Priyayi, cikal bakal organisasi berskala nasional yakni Sarikat Islam. Lewat Medan Priyayi, benih-benih nasionalisme, kesadaran nasional, bukan kesadaran primordial dan bukan pula pers yang sekedar menampilkan tulisan tentang ‘eksotisme timur jauh’, mulai tumbuh berkembang. Haruskah urang sunda menolak penganugerahan gelar itu? Atau sebaliknya, haruskah wong jawa menolaknya juga? Adakah yang perlu dirisaukan? Menolaknya barangkali hanya akan mengungkapkan bahwa di dalam benak kita ideologi primordial ternyata masih beregulasi dengan baik, masih memiliki muatan subversif ketika kita memandang dan menyikapi sesuatu.
Sayangnya, tak satu pun dalam reportase TAS tersebut mengingatkan ataupun menyangkutpautkan tokoh ini dengan (alm.) Pramoedya Ananta Toer. Padahal beliau mencatatnya dengan begitu mengesankan dalam roman tetraloginya dan buku ”Sang Pemula”. Atau ungkapan yang lebih tepatnya: sayang sekali saya yang menyangkutpautkan TAS dengan Pram dan tokoh Minke-nya Pram dalam tetralogi tersebut. Hanya seorang Minke yang belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain di awal tetraloginya (Bumi Manusia). Hanya seorang Minke yang menuturkan, dan dituturkan tokoh lain, sikap dan visi nasionalismenya di Indonesia hingga empat jilid. Hanya seorang Minke yang habis-habisan mencerabut akar feodalisme Jawa di dalam kepalanya, menjejakkan dua kaki pada dua benua, menengok dan mempelajari peristiwa-peristiwa besar dunia yang menjadi tonggak pergerakan kebangsaan yang modern, lalu menuangkan prinsip-prinsipnya ke dalam pergerakan melawan kolonialisme di negerinya sendiri. Hanya seorang Minkekah kalau begitu?
Ia merintis organisasi modern: Sarikat Priyayi yang kemudian beralih menjadi Sarikat Islam dan pers yang menyuarakan kehendak bangsanya sendiri: Medan Priyayi. Ia menikahi Annelis, anak indo Nyai Ontorosoh dan putri Fatima adik Sultan Bacan, Oesman Syah. Tak satupun dari keduanya ia dikarunia anak. Suatu petandakah bahwa kehadiran anak harus dihilangkan jika ia hanya menjadi pewaris budaya leluhur, hanya menjadi corong masa lampau belaka? Lalu tubuhnya dilenyapkan pula lewat permainan intelejen kolonialis yang mengerikan. Hanya sedikit yang tahu kematiannya. Waktu mulai berlari. Para tokoh nasionalisme lainnya beserta organisasinya disibukkan dengan urusannya masing-masing, tak ada waktu luang untuk mengenang atau pun menelusurinya. Itu petanda lainnya. Ada konsekuensi-konsekuensi pahit yang harus diterimanya jika ia ingin berpikir dan bersikap modern dengan melawan rejim kolonialis.
Yang tersisa pada dirinya adalah teks.
Sebagai orang yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Unpad, saya bersyukur karena bisa belajar bagaimana memahami pentingnya suara, subyek yang berbicara, subyek dalam proses, naratologi, dll dalam suatu karya narasi baik berupa roman, novel, atau cerpen. Memang dalam kajian sastra kita tidak harus menafsir tokoh dalam suatu karya narasi sebagai seorang manusia yang ada sangkut pautnya dengan realitas. Tokoh harus dipahami sebagai subyek yang bermain dengan berbagai unsur lain dalam suatu struktur formal narasi. Keterlibatan data-data sejarah dalam suatu fiksi adalah salah satu cara bagi pengarang untuk meyakinkan pembaca bahwa peristiwa-peristiwa dalam karangannya pernah terjadi di suatu masa. Seorang pengarang karya sastra pun tidak harus terlibat sebagai sumber kebenaran tunggal atas penafsiran karyanya: Pengarang bisa ‘dimatikan’ demi kebhinekaan penafsiran.
Demikian pula dengan Pram. Ia mungkin menyadari bahwa tak mungkin suatu peristiwa atau realitas dapat dipahami tanpa ada subyek yang berbicara dalam suatu karya narasi. Ada penghargaan atas subyektivitas dalam suatu karya sastra. Pram mematikan dirinya ketika ia memulai romannya dengan kalimat: Orang memanggil aku: Minke (Bumi Manusia, 2000:1, Penerbit: Hasta Mitra). Minkelah subyek yang berbicara langsung kepada pembaca. Kita hanya tahu semuanya lewat penuturannya. Lewat naskahnya yang berjumlah 3 jilid (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah) kita bisa tahu alasannya mendirikan organisasi Syarikat Priyayi hingga Syarikat Islam, koran Medan Priyayi, pandangannya tentang perlunya gerakan nasionalisme untuk melawan kolonialisme dan tentang pembentukan suatu organisasi modern.
Masalahnya naskah tersebut tak mungkin bisa berada di hadapan kita jika ia sendiri tidak menyerahkannya kepada Jacques Pangemanann, tokoh intelejen dalam narasinya yang memang betugas untuk ‘mematikan’ Minke. Minke yang dimatikan itu dituturkan kembali lewat suara Pangemanann dalam Rumah Kaca. Mari kita lihat kalimat-kalimat terakhir dalam Rumah Kaca,
… Tentang kenyataan-kenyataannya cukuplah semua tertera dalam berkas catatanku Rumah Kaca ini, yang dengan rela kupersembahkan padamu. Madamelah hakimku. Hukuman aku terima, Madame.
Bersama ini aku serahkan juga padamu naskah-naskah yang memang menjadi hakmu, tulisan R.M. Minke, anakmu terkasih. (Rumah Kaca, 1988:481, Penerbit: Hasta Mitra).

Jadi tak mungkin pula kita bisa membaca tetralogi itu jika Pangemanann tidak menyerahkan naskah-naskah Minke dan miliknya sendiri kepada Madame Ontorosoh. Lalu timbul pertanyaan: siapa sebenarnya yang mengarang roman tetralogi ini? Apakah Pram adalah pewaris selanjutnya atas naskah-naskah Minke dan Pangemanann dari Madame Ontorosoh lalu menghubungi penerbit agar mencetak dan menyebarluaskannya? Inilah permainan teks sastra narasi yang sangat kontemporer. Kebenaran tidak hanya sekedar menggali makna yang terkandung di dalam teks namun juga harus memperhatikan siapa subyek yang sedang membicarakan kebenarannya, siapa author yang sedang beregulasi dalam teks tersebut dan subyek yang sedang authorized pada prosesnya.
Pram tak pernah mengatakan tetralogi ini sebagai novel atau roman melainkan sebagai naskah. Lalu bagaimana kita memperlakukan tetralogi ini: sebagai naskah sejarahkah atau sebagai karya fiksi belaka? Pertanyaan ini membawa kembali ke awal tulisan saya tentang TAS sebagai tokoh sejarah pers dan Minke sebagai tokoh fiksi dalam tetralogi Pram. Barangkali kesadaran Pram telah sampai di titik petemuan ini: ada batas yang samar antara sejarah dan fiksi. Data-data sejarah hanya genangan darah, sementara manusialah yang mendenyutkannya. Pram merasa tidak memiliki kuasa dan tidak berhak menjadi Author atas semua kehebatan itu. Ada subyek yang sedang berproses disana yang tak bisa dihentikan atau diwakilkan begitu saja. Ia memilih untuk menjadi tukang catat saja atas suara-suara tokoh-tokoh besar perintis bangsa ini, suara-suara yang tak bisa direpresentasikan alias di-dubbing, kebenaran yang tidak patut disampaikan hanya oleh orang ketiga. Pram memilih untuk menjadi seseorang yang ingin mempersembahkan denyutan darah anak-anak bangsa yang harus dipertaruhkan ketika mereka berbicara sendiri tentang nasib bangsanya.
Apapun namanya, sejarah atau fiksi, fakta atau narasi, ada satu hal yang penting bagi saya: lewat naskah/roman empat jilid yang dipersembahkan Pramoedya Ananta Toer inilah, saya mengagumi visi dan kesadaran kebangsaan Minke yang 99,9% kemungkinannya adalah Tirto Adi Suryo, bukan Dr Azahari! Kekaguman ini bagi saya jauh melebihi penobatan dirinya sebagai tokoh Jawa Barat maupun sebagai pahlawan nasional. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca seakan menjadi tongkat estafet suara anak bangsa atas nasib dan visi negerinya sendiri. Lalu siapakah gerangan yang memegang tongkat itu sekarang?

Devida et Impera

Dalam peristiwa ‘adu sihir’ antara Firaun dan Nabi Musa, atas perintah Tuhan tongkat di tangan kanan Musa dilemparkan dan menjadi ‘sesuatu’ yang menelan tali-tali dan tongkat-tongkat para magician-nya Firaun yang terbayang oleh Nabi Musa seakan-akan merayap cepat (QS 20:57-69).

Ini adalah hal yang biasa terjadi di Indonesia saat ini: seseorang/sekelompok orang mengadukan orang/kelompok lain kepada aparat hukum karena opininya (baik dalam wawancara, news atau pun artikel) dianggap telah menyinggung ideologi, kepercayaan ataupun kelemahan fisik seseorang/kelompok tersebut. Cukup dengan mengambil satu kalimat dalam opininya itu dan melepaskannya dari teks/wacana yang dibangunnya, mereka merasa yakin bahwa ‘pengirim khabar’ itu telah menodai suatu kepercayaan atau kebenaran yang setiap orang di Indonesia ini pasti meyakininya. Persoalan semakin runyam lagi ketika mereka memperluas ruang lingkup ketersinggungannya. Dengan kata lain mereka ‘menyinggung’ kelompok-kelompok lain –dengan mengubah subyek ‘kami’ menjadi ‘kita’ –untuk ikut ‘tersinggung’ atas kalimat dalam opininya tersebut. Adakah usaha seseorang atau kelompok untuk membawa pulang kalimat tersebut ke rumahnya (teks) dan bertabayun (to confirm) pada orang-orang di rumahnya (kalimat-kalimat lain dalam teks tersebut) serta menanyakan mengapa ia sampai dibiarkan berkeliaran di jalanan (intertekstual/kontekstual)?

Ijinkan saya ‘menyalahgunakan’ ilmu analisis bahasa untuk kepentingan tulisan saya ini: suatu kalimat pernyataan akan mensyaratkan suatu konstruksi teks yang berasal dari beragam kalimat yang dihubungkan satu sama lainnya baik oleh pemadu, gatra, intonasi maupun unsur-unsur manasuka yang tiada lain adalah agar tercipta suatu ‘model makna’ (semantik) tertentu. Tanpa penjelasan terperinci lagi, model makna ini saya pahami sebagai wacana. Wacana berkaitan dengan sudut pandang suatu subyek dan sudut pandang berkaitan dengan bagaimana subyek tersebut menyerap suatu teks/konteks lain. Seberapa jauh daya serap subyek tentunya berkaitan juga dengan tingkat usia, kesadaran emosi dan inderawinya, tingkat pendidikan, ideologi atau tingkat ekonominya atau, meminjam wacana kekuasaannya Michel Foucalt, kekuasaan yang menciptakan, meregulasikan dan mendistribusikan kebenarannya. Saya tak berani mengatakan subyek itu adalah manusia karena ia bisa jadi adalah Sponge Bob, Nasrudin Hoja, Abu Nawas atau si Kabayan misalnya.

Memungut satu kalimat pernyataan untuk menggeneralisasi baik/buruknya suatu ideologi tertentu ini sebenarnya tak jauh bedanya dengan sikap pemerintah atau rakyat Amerika yang menggeneralisasi umat Islam sebagai biang keroknya teroris di dunia ini hanya dari konflik-konflik Iran vs Amerika Serikat atau konflik Al Qaeda vs Amerika Serikat. Amerika Serikat masih tergolong ‘hijau’ dalam memahami keberagaman umat Islam di dunia ini dibandingkan Inggris, Prancis, Jerman atau Spanyol misalnya (Eropa) yang memiliki ‘kenangan terindah’ ketika bertarung dengan negeri-negeri Islam selama perang suci yang berabad-abad itu. Mungkin ada sebagian umat Islam memahami jihad dalam pengertian qatil (perang) dan kematian yang syahid lewat peristiwa fisik sebagai cita-cita utopia (masuk surga) namun tidak bisa disimpulkan bahwa kepercayaan sebagian itu merepresentasikan keseluruhan. Sebagai contoh, konflik antara pemerintahan Anwar Sadat dan berbagai partai fundamentalisme Islam di Mesir terjadi atas dasar perselisihan ortodoksi yang sama. Sadat dan sumber-sumber Muslimnya menyatakan diri sebagai partai Sunah dan musuhnya mengajukan berbagai argumen bahwa mereka-lah pengikut sejati Sunah. Belum lagi kalau kita bicara tentang kitab suci Alquran sebagai identitas mendasar bagi orang-orang Muslim meskipun bagaimana Alquran ini ditafsirkan dan dipegang akan segera membawa kita pergi jauh-jauh darinya. Yang harus diperhatikan lagi adalah bagaimana memahami berbagai interpretasi tentang Alquran yang saling bertentangan yang kemudian membentuk sejumlah besar sekte-sekte Islam, aliran-aliran yurisprudensial, beragam corak hermenetik, teori-teori linguistik dan sebagainya (silakan baca teks seutuhnya dalam Edward W. Said, Covering Islam, Penerbit Jendela, Yogya, 2002).

Edward W. Said barangkali menujukan pandangan dalam bukunya itu kepada ‘kita’ sebagai orang Amerika bukan kepada ‘kita’-nya orang Indonesia. Namun ‘kita’-nya Said ini sangat berguna untuk ‘kita’, terutama untuk memeriksa kembali dimanakah posisi ‘kita’ (misalnya posisi MUI, JIL, FPI, MMI, Komunitas Eden, Ahmadiyah, Salafiyah, dsb) atau sedang memakai perspektif manakah ‘kita’ sebenarnya saat ini? Apakah, disadari atau tidak, kita sedang terjebak dalam pemahaman ‘kita’-nya Amerika dan/atau apakah beberapa ‘kita’ yang ada di Indonesia sebenarnya merupakan sintesisnya dari ‘kita’ Amerika? Apakah kita terjebak dalam permainan oposisi biner ‘kita-mereka’ (the others), mensubyekkan ‘kita’ sebagai yang benar lalu menganggap ‘mereka’ (the others) yang berada di sekitar kita sebagai yang salah [dari yang benar itu]? Benarkah ‘kita’ adalah kaum yang tidak “menghadapkan wajah ke arah timur dan barat itu [sebagai] suatu kebajikan… (QS 2:177)?

Ini adalah pelajaran sejarah SD. Disebutkan bahwa kegagalan Indonesia melawan penjajah pada masa-masa pra-kemerdekaan adalah karena perlawanan-perlawanan yang terjadi masih bersifat kedaerahan sehingga penjajah dapat dengan mudah memecah-belah dan menguasai (devide et impera) wilayah konflik tersebut. Perang-perang bernuansa ‘kedaerahan’ tersebut (misalnya Perang Aceh, Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Puputan) dianggap tidak efektif dan mudah dijinakkan dengan memanfaatkan konflik-konflik yang terjadi diantara ‘mereka’ sendiri lalu menguasainya setelah ‘mereka’ remuk redam di dalam dirinya sendiri. Disebutkan pula bahwa keberhasilan menghalau penjajah adalah munculnya kesadaran manusia Indonesia karena lewat kesadaran itulah manusia Indonesia memahami betapa pentingnya bahasa dan konsep bangsa sebagai alat pemersatu beragam suku bangsa, bahasa, agama, kepercayaan di nusantara ini. Kesadaran ini dengan demikian menuntut kebesaran hati untuk menepiskan semangat primordialisme dan atavisme di dalam diri masing-masing suku bangsa serta memandang dan menghadirkan dirinya sebagai bagian dari dan untuk cita-cita suatu bangsa.

Ini adalah zaman globalisasi. Ada perentangan cara hidup, cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak ke lingkup seluas bola dunia. Disebutkan bahwa kekuatan bahasa begitu dahsyatnya sehingga ia mampu mendistribusikan dan meregulasikan citra-citra tertentu ke pelosok dunia yang kemudian membentuk suatu pola sikap dan acuan manusia dalam memahami ‘panggung sandiwaranya’ di dunia ini. Dunia purba muncul lagi dan bergerak paralel dengan dunia modern. Manusia modern merayakan semangat purba; manusia purba menikmati dunia modern. Kebenaran menelurkan kesalahan; kesalahan menetaskan kebenaran lain. Sekelompok orang menyusuri masa lalu dan di ujungnya ia bertemu dengan masa depan atau sebaliknya. Gunung meletus, Mbah Maridjan tampak sedang mengusung keris di televisi. Begitulah. Pada zaman ini, kutuk akan menyeret manusia yang menelan citra bulat-bulat tanpa mempertimbangkan citra-citra lainnya; berkah akan merangkul manusia yang mengunyah dan menikmati citra dan menyandingkannya dengan cita rasa citra-citra yang lainnya.

Ini bukan jaman purba ataupun jaman modern. Ada yang ingin menjelmakan dirinya menjadi tongkat-tongkat dan tali-tali kecil yang merayap cepat. Ada yang ingin menjelmakan dirinya menjadi ‘sesuatu’ tongkat yang akan melahap mereka. Kaukah itu? Diakah kau? Kaukah aku?

Bandung, 17 Juni 2006