Bagaimana Jika Kita Berjika-jikaan
Ijinkan penulis mengajak anda untuk menengok sebentar kata ‘jika’ demi ilmu-ilmu yang telah dikembangkannya. Selama ini kita seringkali meluputkan beliau dari kehidupan sehari-hari padahal kata ini merangsang berbagai proses kreatif yang membuahkan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang berguna atau pun tidak bagi kemaslahatan umat manusia di dunia. Bahkan bahasa Inggris begitu cerewet memperlakukan kata ini sehingga ia harus dibahas secara khusus dalam topik bahasan ‘If Conditional’.
Seorang sutradara besar teater Rusia, Stanislavsky, mengenalkan if magic sebagai sebuah metode jitu untuk merangsang motif-motif yang dibangun demi terciptanya suatu pola tindak action. Lewat muridnya, Stella Adler, metode ini dibawa ke teater-teater di Broadway dan sinema-sinema di Hollywood dan diturunkan ke dalam tingkat yang lebih praksis oleh para penerusnya. Tanpa metode tersebut, tak mungkin kita bisa menikmati akting-akting yang memesona, cerdas, realistis, dan wajar dari mulai aktor Marlon Brando hingga Tom Hanks.
Gayatri C. Spivak dalam Feminism and critical theory mendaku bahwa persoalan wacana manusia secara umum tampak tengah mengartikulasikan dirinya sendiri pada permainan, berkaitan dengan, tiga konsep yang berpindah-pindah: bahasa, dunia dan kesadaran. Tak ada dunia yang tak terorganisasi seperti bahasa, kita beroperasi dengan tanpa kesadaran lain kecuali yang terstruktur seperti bahasa –bahasa yang tidak bisa kita miliki karena kita dioperasikan oleh bahasa itu juga. Kategori bahasa kemudian merangkul kategori dunia dan kesadaran, sekalipun kategori bahasa ditentukan oleh kedua kategori tersebut.
Rumusan Spivak di atas mungkin bisa diadopsi demi kepentingan tulisan ini. Kata ‘jika’ membuka peluang pembentukan kalimat pengandaian, membangun teks dan lebih jauh lagi mendefinisikan kesadaran manusia dan dunianya. Permainan tiga konsep a la Spivak tersebut dapat diplesetkan sebagai berikut: Jika tidak ada bahasa, bagaimana kesadaran [manusia] mendefinisikan diri dan dunianya? Jika tidak ada dunia bagaimana manusia memanfaatkan bahasa? Dan jika tidak ada manusia, lewat apa bahasa mendefinisikan dunia?
Jika boleh saya akan mengajak anda jalan-jalan mengunjungi wilayah-wilayah imajinasi dan membuka berbagai percakapan kreatif di dalam benak anda sendiri. ‘Jika’ adalah kunci untuk memasuki gudang fiksi (semiotic reservoir) yang merupakan harta karun manusia. Bersiaplah dengan berbagai kemungkinan pahit ketika anda berada di gudang tersebut karena ia akan mangajukan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang darinya akan tercipta suatu ‘kenyataan’ lain. ‘Kenyataan’ ini mungkin bisa mengganggu pemikiran mapan anda karena bisa jadi ia mempersoalkan kembali kebenaran yang sudah ‘dari sononya’.
Karya-karya fiksi ilmiah dilandasi oleh kalimat pertanyaan yang diawali dengan kata tanya what if... Jauh sebelum manusia secara nyata –jika nyata adalah lawan dari fiksi –menjejakkan kakinya ke bulan, seorang Bishop Godwin dalam karya fiksinya The Man in the Moone (1638) atau Marjorie Nicholson dalam karyanya Voyages to the Moon (1948) ‘berjika-jikaan’ tentang kemungkinan manusia menempuh perjalanan ke bulan, jauh sebelum Neil Amstrong akhirnya menjejakkan kakinya ke bulan. Film Frankenstein, Matrix, Terminator I & II barangkali takkan pernah anda nikmati jika tak ada pengarang (novel atau film) yang melandasi ceritanya dengan persoalan bagaimana jika manusia dihidupkan kembali atas usaha manusia yang lainnya, bagaimana jika ternyata kita hidup di dunia paralel, bagaimana jika ternyata kita hidup dunia maya, bagaimana jika kita saat ini sebenarnya tengah berada di dalam mimpi seseorang/sesuatu sebagaimana orang-orang atau peristiwa-peristiwa yang berada dalam mimpi kita.
Pada abad pertengahan dunia dipercayai sebagaimana halnya sebuah tarikan garis lurus yang berpangkal dari suatu titik, seorang Galileo memberikan alternatif lain: garis lurus itu hanyalah kenyataan semu yang dipandang dari perspektif tertentu, bagaimana ‘jika’ garis itu sebenarnya akan menemui kembali titik pangkalnya hingga mewujud seperti sebuah lingkaran? ‘Jika’ tersebut pada awalnya menyinggung otoritas gereja yang menganggapnya sebagai kajian yang bid’ah. Tapi akhirnya ia diterima. Tak tanggung-tanggung, ilmu geografi, astronomi, matematika, fisika hingga sejarah pun kebagian berkah dari ‘jika’ tersebut. Apakah dengan demikian teori simetris runtuh dan raib? Tidak juga. Ia masih menjadi dasar yang berguna diantaranya bagi ilmu seni rupa, deret ukur/hitung dalam matematika atau ilmu percepatan dalam fisika. Newton takkan pernah menciptakan teori gravitasi jika apel yang jatuh dari pohon luput dari perhatiannya. Mungkin dalam benaknya terbersit pertanyaan, “kenapa setiap benda selalu jatuh ke bawah, bagaimana jika benda jatuh ke atas?” Contoh lain, Ibnu Sina barangkali menemukan atom sebagai unsur terkecil dengan mendedah tamsil tentang cahaya Tuhan (ibarat nur yang membias pada dinding yang berlapis-lapis) dan filsafat Plato (percikan-percikan cahaya di dalam gua) dengan pertanyaan ini: jika yang hakiki itu hanya satu dan yang lainnya hanyalah pantulan-pantulan dari cahaya-Nya saja apakah pantulannya itu adalah unsur-unsur yang berakar/berasal dari unsur yang satu?
Sistem [oposisi] biner yang dipelajari oleh ilmu [bahasa] semantik, psikologi dan ilmu komunikasi model Shannon dan Weaver meminjam kata ‘jika’ juga untuk menguraikan sistemnya. Otak kita, dalam sistem oposisi biner, akan mengalami serangkaian pilihan biner dengan cepat ketika kita menaksir usia seseorang. Jika kita ingin mendapat informasi tentang usia bayi, maka kita akan memperoleh lima bit informasi karena kita telah membuat lima pilihan berikut ini: apakah mereka tua atau apakah mereka muda; jika muda, apakah mereka remaja atau pra-remaja; jika pra-remaja, apakah mereka usia sekolah atau prasekolah; jika pra-sekolah, apakah mereka anak-anak atau bayi?
Demikianlah. ‘Jika’ selalu memberi aneka pilihan. ‘Jika’ akan membangun sekumpulan kalimat yang logis di dalam dirinya sendiri. Dan kalimat tersebut bisa saja diruntuhkan jika anda memilih untuk memakai ‘jika’ yang lainnya untuk membangun kalimat-kalimat logis yang lainnya. Sambutlah ‘jika’ jika ia dapat memperbaharui kemapanan berpikir anda, buatlah ‘jika’ yang lain jika ia ternyata tidak benar dan cukup mengganggu kesadaran anda. Tertarik berjika-jikaan?

<< Home