terokaku

Thursday, May 07, 2009

Yahudi oh Yahudi


Jika saja tidak pernah ada sikap anti-Semitisme di Eropa, nyaris tak mungkin ada negara Yahudi di Timur Tengah hari ini (Karen Armstrong dalam “Perang Suci”).

Babad para nabi keturunan Ibrahim mencatat bahwa kaum Yahudi berkali-kali mengalami proses penaklukan (kibbutz) dan pengasingan (diaspora). Proses ini berlangsung secara kausal dan kontinyu pada setiap generasi nabi. Dimulai dengan perjalanan Abram –selanjutnya berganti nama menjadi (Nabi) Ibrahim –ke tanah Kanaan, Israel modern, pada sekitar tahun 1850 SM. Namun berbagai bencana di tanah tersebut mendorong kaum Yahudi beremigrasi ke Mesir pada tahun 1700 SM. Nabi Musa selanjutnya ditunjuk Tuhan untuk membebaskan kaumnya dari penindasan Firaun dan membawa mereka kembali ke tanah yang dijanjikan (Eksodus). Nabi Yoshua dan Daud meneruskan perjuangan Musa dengan melakukan semacam operasi militer yang kejam dengan menumpas ‘orang-orang kafir’ yang sebelumnya telah menduduki tanah tersebut (saat ini kita bisa memakai istilah genocide untuk menyebut operasi militer semacam itu). Daud berhasil menaklukkan Sion, benteng kuno Raja Yebus di Yerusalem. Dari sinilah istilah ‘zionisme’ –yang sering kita sebut-sebut saat ini dan melekatkan berbagai citra buruk atas sosok Yahudi –terlahir. Namun Penaklukan dan pengasingan masih berlanjut. Dari sejak kerajaan Nabi Sulaiman berkuasa, anak Daud, hingga Yesus, proses ini seolah menjadi bagian yang melekat erat dalam pembentukan jati diri kaum Yahudi sepanjang masa.

Ini adalah proses yang sangat melelahkan. Mereka bergulat dengan diri mereka sendiri atas kepercayaan yang diberikan Tuhan sebagai kaum pilihan dan mereka harus mengemban kepercayaan itu karena jika tidak Tuhan tak segan-segan untuk mengasingkan mereka. Kita perlu memandang Yahudi pada sisi ini di tengah kebencian atas mereka yang semakin memuncak saat ini, bukan untuk menjustifikasi aksi brutal mereka terhadap masyarakat Palestina dan Masyarakat Arab di Libanon sebagaimana operasi militer yang dilakukan oleh Nabi Yoshua dan Nabi Daud. Bagaimanapun kekerasan, penindasan dan penjajahan bukanlah suatu cara terbaik dalam menyelesaikan masalah meskipun itu dilandasi oleh semangat religius. Masyarakat dunia saat ini mencoba untuk menempatkan kesadaran manusiawi dan mencari titik-titik persamaan diantara berbagai perbedaan, terutama yang menyangkut SARA, demi terwujudnya perdamaian dunia.

Tapi ada bangunan subversif yang berbahaya yang setiap saat muncul begitu saja manakala terjadi konflik-konflik yang berkenaan dengan jati diri suatu bangsa, ras atau agama. Bangunan ini tercipta dari rasa benci dan dendam dari masa lalu, berkembang menjadi wacana-wacana ilmu pengetahuan dan membentuk struktur sikap serta acuan manusia ketika manusia memandang manusia yang lainnya. Bangunan ini sialnya diperlukan ketika kita hendak merumuskan jati diri kita sendiri yang terpecah belah. Perumusan yang paling efektif adalah dengan membedakan ‘kita’ dengan ‘yang lain’, kita tidak seperti mereka atau kita lebih baik dari mereka. Manakala kebenaran ‘kita’ itu tersebar dalam berbagai wacana, sadar atau tidak, kita bisa terjebak dalam kebenaran tersebut. Kita boleh-boleh saja membenci kaum Yahudi atas perilaku brutalnya dan mencurigai mereka telah membuat berbagai skenario untuk menghancurkan dunia ini. Namun perlu juga diketahui bahwa masyarakat Eropa telah mengawali benih-benih kebencian atas kaum Yahudi ini. Ada semacam ‘penyakit akut anti-semitisme’ dalam jati diri masyarakat Eropa selama beratus-ratus abad jauh sebelum Hitler dan Nazinya membantai mereka.

Karen Armstrong dalam bukunya, “Perang Suci”, mencatat dengan cermat dan menakjubkan bahwa setiap kali Perang Salib dikhotbahkan, selalu ada perburuan kaum Yahudi. Bahkan sebelum pasukan Salib berhadapan dengan musuh utamanya, imperium Islam, musuh pertama yang mereka ciptakan adalah kaum Yahudi. Salah satu kegairahan yang ditanamkan oleh Perang Salib bagi dunia Barat adalah tradisi panjang dan memalukan untuk membenci kaum Yahudi. Kaum Yahudi dianggap sebagai hambatan bagi identitas baru mereka. Para pengkhotbah dari Perang Salib I hingga VI berperan besar dalam menebarkan visi yang cenderung anti-semitisme di kalangan masyarakat Eropa. Meskipun Gereja secara resmi mengutuk perburuan kaum Yahudi, para pengkhotbah itu menyisipkan sikap anti-Semit di sela-sela khotbahnya kepada kaum Frank di Eropa untuk ikut berperan dalam perang suci ini. Bahkan pada abad ke-16 para paus pun ikut-ikutan mendukung perburuan kaum yahudi di Eropa. Tradisi resmi Kriten (di Barat) mengenai kaum Yahudi menyatakan bahwa kaum Yahudi tak diragukan lagi sebagai masyarakat licik yang telah kehilangan panggilan suci mereka kerena telah menyalib Kristus (K. Armstrong dalam “Perang Suci”, hal. 128). Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1096 Pasukan Salib di bawah kepemimpinan Emich menghancurkan SHUM, komunitas Yahudi terbesar di Jerman. Dan sejak itu perburuan terhadap kaum Yahudi terus berlanjut selama beratus-ratus abad Perang Salib.

Pasca perang salib pun tak ada bedanya. Periode Jaman Akal di Eropa berhasil melepaskan kungkungan agama dari kehidupan masyarakat Eropa, namun tidak berhasil menghapus fantasi-fantasi distortif yang menyertai sikap anti-semitisme dalam benak mereka. Simak saja tulisan Voltaire dalam Dictionnarie philosophique (K. Armstrong, hal 749) yang dengan sinis menganggap kaum Yahudi ini sebagai “sebuah bangsa yang benar-benar bodoh, yang selama bertahun-tahun menggabungkan berbagai keserakahan yang amat tercela dengan takhayul yang paling menjijikkan serta dengan sebuah kebencian penuh kekerasan terhadap sebuah bangsa yang telah membiarkan mereka.”

Ekspresi paling mengerikan dari kebiasaan anti-semitisme masyarakat Eropa dapat ditemukan dalam gerakan Nazi pimpinan Hitler. Tiga tahun setelah Perang Dunia II usai, David Ben Gurion memproklamasikan negara Israel, tepatnya pada tanggal 14 Mei 1948 di Museum Tel Aviv. Barangkali masyarakat Eropa pun pada saat itu merasa lega dengan pencapaian ini karena mereka akhirnya tidak lagi direpotkan dengan masalah-masalah kaum Yahudi di Eropa. Jalan tak semulus yang diharapkan bagi negara baru ini hingga sekarang, tapi setidaknya kaum Yahudi dapat terhindar dari berbagai penindasan di tanah pengasingan (diaspora) dan mencoba untuk membangun identitas barunya di atas tanah Palestina tersebut. Proklamasi ini pun seolah menjadi penebusan dosa bagi kaum Yahudi yang sebelumnya dibuang ke tanah-tanah pengasingan (diaspora). Mitos Tanah yang Dijanjikan pun mewujud kembali dalam bentuk yang lebih sekuler di jaman pasca-modern ini. Namun kaum Yahudi pun harus tetap cemas, karena mitos diaspora setiap saat akan terjadi lagi. Sebagaimana disebutkan diatas, Tuhan tak segan-segan untuk mengasingkan mereka jika mereka kembali merepotkan-Nya di dunia ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home