terokaku

Thursday, May 07, 2009

Simalakama

Ada perempuan yang berani menolak disuguhi surga ketika suaminya merajuk-rajuk meminta ijin kepadanya untuk memiliki perempuan lain selain istrinya sendiri. Lalu para lelaki menciptakan laknat dan neraka bagi para perempuan pembangkang itu.

O buroq menjatuhkan simalakama di piring-piring para perempuan itu. Para lelaki mengintip mereka di lubang-lubang kunci kamar hotel, berharap mereka mengunyahnya lalu jatuh bersimpuh di hadapannya memohon ampun atas kecemburuannya.

Namun para lelaki berani nyolong surat dan stempel Tuhan untuk diisi dengan surga atau neraka atau dosa atau pahala atau cinta demi kepentingannya itu. Ada yang menjualnya mahal atau murah tergantung kualitasnya, ada pula yang membagi-bagikannya ke sesama jenisnya.

Bukan cuma itu, mereka pun membangun pagar-pagar rapat di tengah langit dan bumi sehingga para perempuan hanya meratap-ratap atau menjerit-jerit memanggil Tuhan sambil menggelantung memegang pagar dan berharap tidak jatuh lagi ke bumi. Mereka tak bisa menggergaji atau memalu pagar karena hanya lelakilah yang bisa bilang gergaji atau palu. Mereka pun tak bisa lama-lama menggelantung pada pagar karena kata menggelantung hanya ditakdirkan untuk lelaki. Tapi mereka punya kata-kata seperti setia, taat, patuh, solehah atau kebalikannya. Tentu saja. Selebihnya, definisi-definisinya, hanya dimiliki lelaki saja. Harap diingat kata takdir adalah takdir lelaki pula.

Tuhan? Ah ya itu. Tentu saja perempuan punya, seperti halnya hantu. Tapi kau harus minta ijin suami untuk tau artinya!

Disorientasi

Mau kuseduhkan secangkir kopi tuan?

Setengah kantuk bukan lantaran tak ingin tidur apalagi hendak bercakap. Tapi malam masih muda, sayang untuk ditinggalkan. Seharusnya biar saja begitu. Hanya saja kecamuk remeh temeh ini tak baik untuk dipikirkan. Tapi malam harus dinikmati dengan pikiran sehat atau tawa puas atau senyum bahagia atau setarikan nafas lega..

Atau maukah kuiriskan beberapa potong kue keju?

Ah saya tak pandai bercakap atau menyembunyikan muka masam atau memperlihatkan muka manis-manisan. Huruf “s” ini tak bisa dibikin kapital karena ia akan segera menghapus satu paragraf kegundahan yang sudah begitu sulit untuk diartikulasikan. Entah kenapa. Setengah kantuk ini adalah pintu utama yang menghalangi labirin-labirin hasrat atau gudang khayal dan saya hanya mencakar-cakarnya saja atau menggerutu tak karuan. Menangis tidak bisa karena air mata ada di salah satu pintu labirin itu.

Maukah kutemani kau berjalan-jalan di taman?

Taman? Saya ingat taman Iwan simatupang. Tak ada kepastian. Emosi datang tiba-tiba, dilemparkan ke muka orang tanpa alasan yang jelas. Bisakah menangis demi menangis itu sendiri? Menangis sajalah dulu lalu cari alasannya. Kau akan menemukan sesuatu yang tiada, emosional, di dalam tumpukan alasan-alasan rasional.

Sudah gitu aja?

Ya sudah

Bagaimana Jika Kita Berjika-jikaan

Ijinkan penulis mengajak anda untuk menengok sebentar kata ‘jika’ demi ilmu-ilmu yang telah dikembangkannya. Selama ini kita seringkali meluputkan beliau dari kehidupan sehari-hari padahal kata ini merangsang berbagai proses kreatif yang membuahkan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang berguna atau pun tidak bagi kemaslahatan umat manusia di dunia. Bahkan bahasa Inggris begitu cerewet memperlakukan kata ini sehingga ia harus dibahas secara khusus dalam topik bahasan ‘If Conditional’.

Seorang sutradara besar teater Rusia, Stanislavsky, mengenalkan if magic sebagai sebuah metode jitu untuk merangsang motif-motif yang dibangun demi terciptanya suatu pola tindak action. Lewat muridnya, Stella Adler, metode ini dibawa ke teater-teater di Broadway dan sinema-sinema di Hollywood dan diturunkan ke dalam tingkat yang lebih praksis oleh para penerusnya. Tanpa metode tersebut, tak mungkin kita bisa menikmati akting-akting yang memesona, cerdas, realistis, dan wajar dari mulai aktor Marlon Brando hingga Tom Hanks.

Gayatri C. Spivak dalam Feminism and critical theory mendaku bahwa persoalan wacana manusia secara umum tampak tengah mengartikulasikan dirinya sendiri pada permainan, berkaitan dengan, tiga konsep yang berpindah-pindah: bahasa, dunia dan kesadaran. Tak ada dunia yang tak terorganisasi seperti bahasa, kita beroperasi dengan tanpa kesadaran lain kecuali yang terstruktur seperti bahasa –bahasa yang tidak bisa kita miliki karena kita dioperasikan oleh bahasa itu juga. Kategori bahasa kemudian merangkul kategori dunia dan kesadaran, sekalipun kategori bahasa ditentukan oleh kedua kategori tersebut.

Rumusan Spivak di atas mungkin bisa diadopsi demi kepentingan tulisan ini. Kata ‘jika’ membuka peluang pembentukan kalimat pengandaian, membangun teks dan lebih jauh lagi mendefinisikan kesadaran manusia dan dunianya. Permainan tiga konsep a la Spivak tersebut dapat diplesetkan sebagai berikut: Jika tidak ada bahasa, bagaimana kesadaran [manusia] mendefinisikan diri dan dunianya? Jika tidak ada dunia bagaimana manusia memanfaatkan bahasa? Dan jika tidak ada manusia, lewat apa bahasa mendefinisikan dunia?

Jika boleh saya akan mengajak anda jalan-jalan mengunjungi wilayah-wilayah imajinasi dan membuka berbagai percakapan kreatif di dalam benak anda sendiri. ‘Jika’ adalah kunci untuk memasuki gudang fiksi (semiotic reservoir) yang merupakan harta karun manusia. Bersiaplah dengan berbagai kemungkinan pahit ketika anda berada di gudang tersebut karena ia akan mangajukan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang darinya akan tercipta suatu ‘kenyataan’ lain. ‘Kenyataan’ ini mungkin bisa mengganggu pemikiran mapan anda karena bisa jadi ia mempersoalkan kembali kebenaran yang sudah ‘dari sononya’.

Karya-karya fiksi ilmiah dilandasi oleh kalimat pertanyaan yang diawali dengan kata tanya what if... Jauh sebelum manusia secara nyata –jika nyata adalah lawan dari fiksi –menjejakkan kakinya ke bulan, seorang Bishop Godwin dalam karya fiksinya The Man in the Moone (1638) atau Marjorie Nicholson dalam karyanya Voyages to the Moon (1948) ‘berjika-jikaan’ tentang kemungkinan manusia menempuh perjalanan ke bulan, jauh sebelum Neil Amstrong akhirnya menjejakkan kakinya ke bulan. Film Frankenstein, Matrix, Terminator I & II barangkali takkan pernah anda nikmati jika tak ada pengarang (novel atau film) yang melandasi ceritanya dengan persoalan bagaimana jika manusia dihidupkan kembali atas usaha manusia yang lainnya, bagaimana jika ternyata kita hidup di dunia paralel, bagaimana jika ternyata kita hidup dunia maya, bagaimana jika kita saat ini sebenarnya tengah berada di dalam mimpi seseorang/sesuatu sebagaimana orang-orang atau peristiwa-peristiwa yang berada dalam mimpi kita.

Pada abad pertengahan dunia dipercayai sebagaimana halnya sebuah tarikan garis lurus yang berpangkal dari suatu titik, seorang Galileo memberikan alternatif lain: garis lurus itu hanyalah kenyataan semu yang dipandang dari perspektif tertentu, bagaimana ‘jika’ garis itu sebenarnya akan menemui kembali titik pangkalnya hingga mewujud seperti sebuah lingkaran? ‘Jika’ tersebut pada awalnya menyinggung otoritas gereja yang menganggapnya sebagai kajian yang bid’ah. Tapi akhirnya ia diterima. Tak tanggung-tanggung, ilmu geografi, astronomi, matematika, fisika hingga sejarah pun kebagian berkah dari ‘jika’ tersebut. Apakah dengan demikian teori simetris runtuh dan raib? Tidak juga. Ia masih menjadi dasar yang berguna diantaranya bagi ilmu seni rupa, deret ukur/hitung dalam matematika atau ilmu percepatan dalam fisika. Newton takkan pernah menciptakan teori gravitasi jika apel yang jatuh dari pohon luput dari perhatiannya. Mungkin dalam benaknya terbersit pertanyaan, “kenapa setiap benda selalu jatuh ke bawah, bagaimana jika benda jatuh ke atas?” Contoh lain, Ibnu Sina barangkali menemukan atom sebagai unsur terkecil dengan mendedah tamsil tentang cahaya Tuhan (ibarat nur yang membias pada dinding yang berlapis-lapis) dan filsafat Plato (percikan-percikan cahaya di dalam gua) dengan pertanyaan ini: jika yang hakiki itu hanya satu dan yang lainnya hanyalah pantulan-pantulan dari cahaya-Nya saja apakah pantulannya itu adalah unsur-unsur yang berakar/berasal dari unsur yang satu?

Sistem [oposisi] biner yang dipelajari oleh ilmu [bahasa] semantik, psikologi dan ilmu komunikasi model Shannon dan Weaver meminjam kata ‘jika’ juga untuk menguraikan sistemnya. Otak kita, dalam sistem oposisi biner, akan mengalami serangkaian pilihan biner dengan cepat ketika kita menaksir usia seseorang. Jika kita ingin mendapat informasi tentang usia bayi, maka kita akan memperoleh lima bit informasi karena kita telah membuat lima pilihan berikut ini: apakah mereka tua atau apakah mereka muda; jika muda, apakah mereka remaja atau pra-remaja; jika pra-remaja, apakah mereka usia sekolah atau prasekolah; jika pra-sekolah, apakah mereka anak-anak atau bayi?

Demikianlah. ‘Jika’ selalu memberi aneka pilihan. ‘Jika’ akan membangun sekumpulan kalimat yang logis di dalam dirinya sendiri. Dan kalimat tersebut bisa saja diruntuhkan jika anda memilih untuk memakai ‘jika’ yang lainnya untuk membangun kalimat-kalimat logis yang lainnya. Sambutlah ‘jika’ jika ia dapat memperbaharui kemapanan berpikir anda, buatlah ‘jika’ yang lain jika ia ternyata tidak benar dan cukup mengganggu kesadaran anda. Tertarik berjika-jikaan?

Yahudi oh Yahudi


Jika saja tidak pernah ada sikap anti-Semitisme di Eropa, nyaris tak mungkin ada negara Yahudi di Timur Tengah hari ini (Karen Armstrong dalam “Perang Suci”).

Babad para nabi keturunan Ibrahim mencatat bahwa kaum Yahudi berkali-kali mengalami proses penaklukan (kibbutz) dan pengasingan (diaspora). Proses ini berlangsung secara kausal dan kontinyu pada setiap generasi nabi. Dimulai dengan perjalanan Abram –selanjutnya berganti nama menjadi (Nabi) Ibrahim –ke tanah Kanaan, Israel modern, pada sekitar tahun 1850 SM. Namun berbagai bencana di tanah tersebut mendorong kaum Yahudi beremigrasi ke Mesir pada tahun 1700 SM. Nabi Musa selanjutnya ditunjuk Tuhan untuk membebaskan kaumnya dari penindasan Firaun dan membawa mereka kembali ke tanah yang dijanjikan (Eksodus). Nabi Yoshua dan Daud meneruskan perjuangan Musa dengan melakukan semacam operasi militer yang kejam dengan menumpas ‘orang-orang kafir’ yang sebelumnya telah menduduki tanah tersebut (saat ini kita bisa memakai istilah genocide untuk menyebut operasi militer semacam itu). Daud berhasil menaklukkan Sion, benteng kuno Raja Yebus di Yerusalem. Dari sinilah istilah ‘zionisme’ –yang sering kita sebut-sebut saat ini dan melekatkan berbagai citra buruk atas sosok Yahudi –terlahir. Namun Penaklukan dan pengasingan masih berlanjut. Dari sejak kerajaan Nabi Sulaiman berkuasa, anak Daud, hingga Yesus, proses ini seolah menjadi bagian yang melekat erat dalam pembentukan jati diri kaum Yahudi sepanjang masa.

Ini adalah proses yang sangat melelahkan. Mereka bergulat dengan diri mereka sendiri atas kepercayaan yang diberikan Tuhan sebagai kaum pilihan dan mereka harus mengemban kepercayaan itu karena jika tidak Tuhan tak segan-segan untuk mengasingkan mereka. Kita perlu memandang Yahudi pada sisi ini di tengah kebencian atas mereka yang semakin memuncak saat ini, bukan untuk menjustifikasi aksi brutal mereka terhadap masyarakat Palestina dan Masyarakat Arab di Libanon sebagaimana operasi militer yang dilakukan oleh Nabi Yoshua dan Nabi Daud. Bagaimanapun kekerasan, penindasan dan penjajahan bukanlah suatu cara terbaik dalam menyelesaikan masalah meskipun itu dilandasi oleh semangat religius. Masyarakat dunia saat ini mencoba untuk menempatkan kesadaran manusiawi dan mencari titik-titik persamaan diantara berbagai perbedaan, terutama yang menyangkut SARA, demi terwujudnya perdamaian dunia.

Tapi ada bangunan subversif yang berbahaya yang setiap saat muncul begitu saja manakala terjadi konflik-konflik yang berkenaan dengan jati diri suatu bangsa, ras atau agama. Bangunan ini tercipta dari rasa benci dan dendam dari masa lalu, berkembang menjadi wacana-wacana ilmu pengetahuan dan membentuk struktur sikap serta acuan manusia ketika manusia memandang manusia yang lainnya. Bangunan ini sialnya diperlukan ketika kita hendak merumuskan jati diri kita sendiri yang terpecah belah. Perumusan yang paling efektif adalah dengan membedakan ‘kita’ dengan ‘yang lain’, kita tidak seperti mereka atau kita lebih baik dari mereka. Manakala kebenaran ‘kita’ itu tersebar dalam berbagai wacana, sadar atau tidak, kita bisa terjebak dalam kebenaran tersebut. Kita boleh-boleh saja membenci kaum Yahudi atas perilaku brutalnya dan mencurigai mereka telah membuat berbagai skenario untuk menghancurkan dunia ini. Namun perlu juga diketahui bahwa masyarakat Eropa telah mengawali benih-benih kebencian atas kaum Yahudi ini. Ada semacam ‘penyakit akut anti-semitisme’ dalam jati diri masyarakat Eropa selama beratus-ratus abad jauh sebelum Hitler dan Nazinya membantai mereka.

Karen Armstrong dalam bukunya, “Perang Suci”, mencatat dengan cermat dan menakjubkan bahwa setiap kali Perang Salib dikhotbahkan, selalu ada perburuan kaum Yahudi. Bahkan sebelum pasukan Salib berhadapan dengan musuh utamanya, imperium Islam, musuh pertama yang mereka ciptakan adalah kaum Yahudi. Salah satu kegairahan yang ditanamkan oleh Perang Salib bagi dunia Barat adalah tradisi panjang dan memalukan untuk membenci kaum Yahudi. Kaum Yahudi dianggap sebagai hambatan bagi identitas baru mereka. Para pengkhotbah dari Perang Salib I hingga VI berperan besar dalam menebarkan visi yang cenderung anti-semitisme di kalangan masyarakat Eropa. Meskipun Gereja secara resmi mengutuk perburuan kaum Yahudi, para pengkhotbah itu menyisipkan sikap anti-Semit di sela-sela khotbahnya kepada kaum Frank di Eropa untuk ikut berperan dalam perang suci ini. Bahkan pada abad ke-16 para paus pun ikut-ikutan mendukung perburuan kaum yahudi di Eropa. Tradisi resmi Kriten (di Barat) mengenai kaum Yahudi menyatakan bahwa kaum Yahudi tak diragukan lagi sebagai masyarakat licik yang telah kehilangan panggilan suci mereka kerena telah menyalib Kristus (K. Armstrong dalam “Perang Suci”, hal. 128). Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1096 Pasukan Salib di bawah kepemimpinan Emich menghancurkan SHUM, komunitas Yahudi terbesar di Jerman. Dan sejak itu perburuan terhadap kaum Yahudi terus berlanjut selama beratus-ratus abad Perang Salib.

Pasca perang salib pun tak ada bedanya. Periode Jaman Akal di Eropa berhasil melepaskan kungkungan agama dari kehidupan masyarakat Eropa, namun tidak berhasil menghapus fantasi-fantasi distortif yang menyertai sikap anti-semitisme dalam benak mereka. Simak saja tulisan Voltaire dalam Dictionnarie philosophique (K. Armstrong, hal 749) yang dengan sinis menganggap kaum Yahudi ini sebagai “sebuah bangsa yang benar-benar bodoh, yang selama bertahun-tahun menggabungkan berbagai keserakahan yang amat tercela dengan takhayul yang paling menjijikkan serta dengan sebuah kebencian penuh kekerasan terhadap sebuah bangsa yang telah membiarkan mereka.”

Ekspresi paling mengerikan dari kebiasaan anti-semitisme masyarakat Eropa dapat ditemukan dalam gerakan Nazi pimpinan Hitler. Tiga tahun setelah Perang Dunia II usai, David Ben Gurion memproklamasikan negara Israel, tepatnya pada tanggal 14 Mei 1948 di Museum Tel Aviv. Barangkali masyarakat Eropa pun pada saat itu merasa lega dengan pencapaian ini karena mereka akhirnya tidak lagi direpotkan dengan masalah-masalah kaum Yahudi di Eropa. Jalan tak semulus yang diharapkan bagi negara baru ini hingga sekarang, tapi setidaknya kaum Yahudi dapat terhindar dari berbagai penindasan di tanah pengasingan (diaspora) dan mencoba untuk membangun identitas barunya di atas tanah Palestina tersebut. Proklamasi ini pun seolah menjadi penebusan dosa bagi kaum Yahudi yang sebelumnya dibuang ke tanah-tanah pengasingan (diaspora). Mitos Tanah yang Dijanjikan pun mewujud kembali dalam bentuk yang lebih sekuler di jaman pasca-modern ini. Namun kaum Yahudi pun harus tetap cemas, karena mitos diaspora setiap saat akan terjadi lagi. Sebagaimana disebutkan diatas, Tuhan tak segan-segan untuk mengasingkan mereka jika mereka kembali merepotkan-Nya di dunia ini.